Mengapa Harga Saham GOTO Turun Terus dari IPO hingga November 2026? Ini Penyebabnya
Harga saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi salah satu fenomena yang menarik perhatian investor pasar modal Indonesia. Sejak melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada April 2022, saham perusahaan teknologi yang menaungi Gojek dan GoPay ini mengalami penurunan harga cukup dalam dibandingkan saat penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO).
Ketika IPO, GOTO menawarkan saham dengan harga Rp338 per lembar. Namun, hingga 2 November 2026, sahamnya tercatat berada di kisaran Rp24 per saham. Artinya, harga saham GOTO telah terkoreksi sekitar 92,9% dibandingkan harga IPO.
Penurunan tersebut tentu menimbulkan pertanyaan bagi investor, terutama mereka yang sudah memiliki saham GOTO sejak awal pencatatan di bursa.
Mengapa harga saham GOTO turun terus meskipun perusahaan mulai menunjukkan perbaikan kinerja keuangan? Apakah penyebabnya berasal dari kondisi fundamental perusahaan, perubahan regulasi pemerintah, tekanan investor asing, atau faktor teknis perdagangan saham?
Untuk memahaminya, kita perlu melihat perjalanan GOTO sejak IPO hingga perkembangan terbaru pada November 2026.
Perjalanan Harga Saham GOTO Sejak IPO 2022
GOTO resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada 11 April 2022. Saat itu, perusahaan menawarkan saham kepada publik dengan harga Rp338 per lembar.
IPO GOTO menjadi salah satu penawaran saham perdana terbesar di Indonesia. Perusahaan menghimpun dana sekitar Rp13,72 triliun dan memiliki valuasi pasar sekitar Rp400 triliun berdasarkan harga penawaran.
Antusiasme investor ketika itu cukup tinggi. GOTO dipandang memiliki prospek besar karena menggabungkan ekosistem transportasi online, perdagangan elektronik, pembayaran digital, dan layanan keuangan.
Namun, optimisme tersebut tidak bertahan lama.
Pada bulan-bulan berikutnya, harga saham GOTO mulai mengalami tekanan. Investor mulai memperhatikan besarnya kerugian perusahaan, kebutuhan pendanaan, persaingan bisnis, serta ketidakpastian mengenai kapan perusahaan mampu menghasilkan keuntungan secara konsisten.
Tekanan semakin terasa ketika periode penguncian saham atau lock-up bagi sejumlah pemegang saham lama berakhir pada akhir November 2022. Kondisi tersebut membuka peluang bertambahnya pasokan saham di pasar sekunder.
Memasuki 2023 hingga 2025, GOTO terus melakukan berbagai langkah restrukturisasi, efisiensi biaya, dan perubahan strategi bisnis. Akan tetapi, proses pemulihan kepercayaan investor membutuhkan waktu lebih panjang.
Tekanan kembali meningkat pada 2026. Saham GOTO sempat tertahan di harga minimum Rp50 sebelum akhirnya batas bawah perdagangan saham diubah menjadi Rp1 oleh BEI pada 28 September 2026.
Berdasarkan data perdagangan 2 November 2026, saham GOTO berada di sekitar Rp24 per lembar. Harga tersebut juga masih jauh dari level tertinggi 52 minggu sebesar Rp73.
1. Valuasi IPO GOTO Dinilai Terlalu Tinggi
Salah satu faktor yang menjelaskan penurunan saham GOTO adalah valuasi perusahaan ketika melakukan IPO.
Pada April 2022, GOTO menawarkan saham seharga Rp338 per lembar dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp400,3 triliun.
Valuasi tersebut mencerminkan ekspektasi pertumbuhan yang sangat besar terhadap bisnis ekonomi digital Indonesia.
Pada saat itu, investor tidak hanya membeli prospek bisnis Gojek dan Tokopedia yang sudah berjalan, tetapi juga mengantisipasi potensi pengembangan ekosistem digital dalam jangka panjang.
Masalahnya, ekspektasi pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya diimbangi kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih yang stabil.
GOTO masih membutuhkan biaya besar untuk mengembangkan bisnis, mempertahankan pelanggan, memberikan insentif kepada mitra, serta menghadapi persaingan dengan perusahaan teknologi lainnya.
Ketika kondisi pasar berubah, investor mulai lebih berhati-hati dalam memberikan valuasi tinggi kepada perusahaan teknologi yang belum menghasilkan keuntungan konsisten.
Akibatnya, harga saham GOTO mengalami proses penyesuaian valuasi.
Dengan kata lain, penurunan saham tidak hanya disebabkan oleh perubahan kinerja perusahaan, tetapi juga perubahan cara pasar menilai prospek bisnis teknologi.
2. Kerugian Bersih dan Besarnya Beban Operasional
Pada masa awal setelah merger Gojek dan Tokopedia, GOTO menghadapi tantangan untuk mengembangkan bisnis dengan skala yang besar sekaligus mengendalikan pengeluaran.
Perusahaan harus mengalokasikan dana untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pemasaran, promosi, insentif pengemudi, pengembangan teknologi, hingga operasional layanan keuangan.
Strategi tersebut memang membantu perusahaan memperluas ekosistem dan meningkatkan jumlah pengguna. Namun, biaya yang besar juga menjadi perhatian investor.
Pasar kemudian mulai mempertanyakan apakah pertumbuhan transaksi dan jumlah pengguna dapat menghasilkan keuntungan yang sebanding.
Kondisi tersebut mendorong GOTO melakukan berbagai langkah efisiensi, termasuk pengurangan tenaga kerja, pengendalian biaya pemasaran, serta penyesuaian pemberian insentif dan promosi.
Langkah efisiensi menjadi penting karena perusahaan perlu membuktikan bahwa bisnisnya dapat menghasilkan keuntungan tanpa terus-menerus mengandalkan pengeluaran besar.
Meskipun demikian, perbaikan profitabilitas membutuhkan waktu. Investor juga tetap memperhatikan kualitas pendapatan, arus kas, dan kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan bisnis.
3. Berakhirnya Lock-up Saham dan Bertambahnya Tekanan Jual
Faktor berikutnya adalah berakhirnya masa penguncian saham atau lock-up period bagi sejumlah investor lama GOTO.
Ketika perusahaan melakukan IPO, sebagian pemegang saham lama tidak dapat langsung menjual seluruh kepemilikannya karena adanya ketentuan penguncian saham.
Setelah masa tersebut berakhir pada 30 November 2022, investor lama memperoleh kesempatan untuk melepas sahamnya sesuai ketentuan yang berlaku.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan di pasar sekunder.
Apabila jumlah saham yang ingin dijual lebih besar dibandingkan permintaan pembelian, harga saham dapat mengalami tekanan.
Hal ini menjadi salah satu faktor yang memperberat penurunan saham GOTO pada periode awal setelah IPO.
Namun, perlu dipahami bahwa berakhirnya lock-up tidak otomatis berarti seluruh investor lama menjual sahamnya. Tekanan harga tetap bergantung pada keputusan masing-masing pemegang saham dan kondisi permintaan pasar.
4. Persaingan Ketat di Industri Teknologi Digital
GOTO beroperasi dalam industri yang memiliki tingkat persaingan cukup tinggi.
Pada layanan transportasi dan pengantaran makanan, Gojek harus bersaing dengan Grab serta berbagai pemain lain yang menawarkan layanan serupa.
Persaingan tidak hanya terjadi dalam hal harga, tetapi juga mencakup kualitas layanan, kecepatan pengantaran, jumlah mitra pengemudi, jangkauan wilayah, dan program promosi.
Sementara itu, bisnis pembayaran digital dan layanan keuangan GoPay juga menghadapi persaingan dari berbagai perusahaan fintech, dompet digital, dan perbankan digital.
Persaingan tersebut dapat membatasi kemampuan perusahaan menaikkan tarif maupun biaya layanan.
Di satu sisi, GOTO perlu menjaga harga agar tetap kompetitif. Namun, di sisi lain, perusahaan juga harus memperhatikan keuntungan yang diperoleh dari setiap transaksi.
Situasi inilah yang membuat pengelolaan margin menjadi salah satu tantangan penting bagi GOTO.
Pertumbuhan jumlah pengguna saja tidak cukup untuk meningkatkan valuasi saham apabila tidak diikuti pertumbuhan pendapatan dan keuntungan yang berkelanjutan.
5. Perubahan Strategi Bisnis Setelah TikTok Mengambil Alih Mayoritas Saham Tokopedia
Perubahan besar lainnya terjadi pada awal 2024, ketika TikTok dan GoTo menyelesaikan transaksi penggabungan bisnis Tokopedia dengan TikTok Shop Indonesia.
Dalam kesepakatan tersebut, TikTok menjadi pemegang saham pengendali Tokopedia dengan kepemilikan 75,01%, sedangkan GoTo mempertahankan kepemilikan sebesar 24,99%.
Dengan perubahan tersebut, GoTo tidak lagi mengonsolidasikan seluruh aset dan liabilitas Tokopedia seperti sebelumnya. Kepemilikan yang tersisa dicatat sebagai investasi pada entitas asosiasi.
Perubahan ini penting karena struktur bisnis dan sumber pendapatan GOTO ikut mengalami penyesuaian.
GoTo kemudian lebih memusatkan perhatian pada layanan mobilitas, pengantaran, pembayaran digital, dan layanan keuangan.
Sementara itu, kemitraan dengan TikTok memberikan peluang bagi GoTo untuk tetap memperoleh manfaat ekonomi dari perkembangan bisnis Tokopedia tanpa harus menanggung seluruh kebutuhan pendanaan dan operasionalnya.
Namun, perubahan struktur tersebut juga membuat investor perlu menilai kembali sumber pendapatan, kontribusi investasi, dan prospek pertumbuhan GOTO setelah transaksi.
6. Regulasi Pemerintah Membatasi Komisi Aplikator Maksimal 8%
Regulasi pemerintah menjadi salah satu faktor penting yang menekan prospek bisnis mobilitas GOTO pada 2026.
Melalui Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 tentang perlindungan ekosistem transportasi berbasis platform digital, pemerintah memperkuat pengaturan mengenai hubungan antara perusahaan aplikasi dan pengemudi.
Salah satu ketentuan yang menjadi perhatian investor adalah pembatasan biaya layanan aplikasi atau komisi platform maksimal 8% untuk layanan transportasi roda dua.
Ketentuan tersebut juga telah diadopsi dalam pengaturan Kementerian Perhubungan yang berlaku mulai 1 Juli 2026.
Bagi perusahaan seperti GOTO, perubahan ini berpotensi memengaruhi pendapatan dan margin bisnis mobilitas.
Sebab, pendapatan dari layanan transportasi merupakan salah satu bagian penting dalam ekosistem Gojek.
Dalam laporan kinerja kuartal III 2026, GoTo mengungkapkan bahwa dampak penerapan batas komisi 8% terhadap layanan GoRide mencapai sekitar Rp150 miliar selama kuartal tersebut.
Perusahaan juga menyampaikan bahwa GoRide sempat mencatatkan EBITDA yang disesuaikan negatif pada Juli 2026, meskipun kinerjanya kemudian menunjukkan perbaikan menuju titik impas.
Dengan demikian, regulasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi GOTO untuk mempertahankan profitabilitas layanan transportasi.
Meski demikian, dampaknya perlu dilihat secara menyeluruh karena GOTO juga memiliki sumber pendapatan lain, terutama dari layanan keuangan digital dan pengantaran.
7. Perubahan Batas Minimum Harga Saham BEI dari Rp50 Menjadi Rp1
Salah satu peristiwa yang paling memengaruhi pergerakan saham GOTO pada 2026 adalah perubahan ketentuan batas minimum harga saham di Bursa Efek Indonesia.
Sebelumnya, saham yang diperdagangkan di pasar reguler memiliki batas harga minimum Rp50 per lembar.
Kondisi tersebut membuat saham GOTO yang sudah menyentuh Rp50 tidak dapat bergerak lebih rendah selama aturan lama masih berlaku.
Pada 21 September 2026, BEI mengumumkan perubahan batas minimum harga saham menjadi Rp1 per lembar yang mulai efektif pada 28 September 2026.
Perubahan tersebut memberikan ruang bagi saham yang sebelumnya tertahan di harga Rp50 untuk bergerak mengikuti mekanisme permintaan dan penawaran pasar.
Dengan demikian, harga saham GOTO dapat kembali mengalami penurunan apabila tekanan jual lebih besar daripada minat beli.
Perlu ditegaskan bahwa perubahan aturan BEI bukan berarti harga saham GOTO otomatis turun menjadi Rp1.
Harga saham tetap terbentuk berdasarkan mekanisme perdagangan di bursa.
Namun, pembukaan batas harga minimum membuat tekanan jual yang sebelumnya tidak dapat sepenuhnya tercermin pada harga pasar menjadi lebih terlihat.
Inilah salah satu faktor teknis yang memperbesar volatilitas saham GOTO pada periode setelah 28 September 2026.
8. GOTO Dikeluarkan dari Indeks MSCI dan FTSE
Faktor lainnya berkaitan dengan perubahan komposisi indeks saham global.
Pada Agustus 2026, MSCI mengumumkan penghapusan saham GOTO dari MSCI Indonesia Investable Market Index.
Keputusan tersebut berkaitan dengan persoalan keterbatasan likuiditas saham GOTO.
MSCI menilai saham GOTO mengalami kendala dalam hal replikasi indeks karena diperdagangkan pada batas harga minimum Rp50 sejak pertengahan Mei 2026.
Kondisi tersebut membuat investor yang mengikuti indeks mengalami kesulitan dalam melakukan transaksi saham sesuai kebutuhan portofolionya.
Sebelumnya, FTSE Russell juga telah menghapus GOTO dari indeks globalnya pada Juni 2026.
Namun, alasan penghapusan FTSE perlu dibedakan. Keputusan tersebut berkaitan dengan perubahan klasifikasi saham ke papan pengembangan yang tidak memenuhi persyaratan kelayakan indeks terkait.
Penghapusan dari indeks global dapat memengaruhi permintaan saham dari manajer investasi yang menggunakan indeks tersebut sebagai acuan portofolio.
Ketika suatu saham dikeluarkan dari indeks, dana investasi pasif yang mengikuti indeks berpotensi melakukan penyesuaian kepemilikan.
Meskipun demikian, keputusan MSCI dan FTSE tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti bahwa fundamental GOTO memburuk. Dalam kasus ini, faktor teknis perdagangan dan kelayakan indeks memiliki peranan penting.
9. Perubahan Tren Investasi Global dan Minat terhadap Saham Teknologi
Saham perusahaan teknologi umumnya memiliki karakteristik valuasi yang sangat dipengaruhi ekspektasi pertumbuhan masa depan.
Ketika kondisi pasar keuangan global mendukung, investor cenderung bersedia memberikan valuasi tinggi kepada perusahaan yang memiliki prospek pertumbuhan besar.
Namun, situasinya dapat berubah ketika suku bunga meningkat, biaya pendanaan menjadi lebih mahal, dan investor mulai mengutamakan perusahaan yang sudah menghasilkan keuntungan.
Perubahan preferensi tersebut membuat saham teknologi yang belum memiliki rekam jejak profitabilitas kuat lebih rentan mengalami tekanan.
Dalam kasus GOTO, kondisi ini menjadi salah satu faktor eksternal yang ikut memengaruhi penilaian investor terhadap prospek bisnis perusahaan.
Investor tidak lagi hanya memperhatikan pertumbuhan jumlah pengguna, nilai transaksi, maupun ekspansi layanan.
Mereka juga menilai kemampuan perusahaan menghasilkan laba, menjaga arus kas, mengendalikan biaya, serta mempertahankan pertumbuhan pendapatan.
Perubahan standar penilaian inilah yang membuat perusahaan teknologi harus membuktikan kualitas fundamentalnya secara lebih konsisten.
10. Paradoks Kinerja Keuangan GOTO: Harga Saham Turun, tetapi Mulai Mencetak Laba
Menariknya, penurunan harga saham GOTO pada 2026 terjadi ketika perusahaan justru menunjukkan perkembangan positif dari sisi kinerja keuangan.
Berdasarkan laporan keuangan hingga 30 September 2026 yang diumumkan pada 29 Oktober 2026, GoTo mencatatkan laba bersih sebesar Rp441 miliar pada kuartal III 2026.
Angka tersebut berbalik positif dibandingkan rugi bersih Rp255 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Jika dilihat dari laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk, GOTO mencatatkan keuntungan sebesar Rp1,16 triliun selama sembilan bulan pertama 2026.
Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun sebelumnya perusahaan masih membukukan rugi sebesar Rp775,55 miliar.
Selain itu, sejumlah indikator operasional juga menunjukkan perkembangan positif.
Beberapa pencapaian GOTO hingga kuartal III 2026 antara lain:
Pendapatan bersih kuartal III 2026 mencapai Rp5,6 triliun, meningkat 17% secara tahunan.
EBITDA yang disesuaikan mencapai Rp950 miliar, meningkat 84% dibandingkan kuartal III 2025.
GTV inti tumbuh 89% secara tahunan menjadi Rp194 triliun.
Pengguna bertransaksi tahunan atau Annual Transacting Users (ATU) meningkat 16% menjadi 72,5 juta.
Arus kas bebas yang disesuaikan mencapai Rp1,21 triliun, meningkat 389% secara tahunan.
GoTo juga menaikkan target EBITDA yang disesuaikan sepanjang 2026 menjadi Rp3,5 triliun hingga Rp3,7 triliun, dari sebelumnya Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan mulai memperlihatkan hasil dari strategi efisiensi dan pengembangan bisnisnya.
Namun, investor tetap perlu memperhatikan bahwa EBITDA yang disesuaikan bukanlah laba bersih berdasarkan standar akuntansi. Angka tersebut merupakan ukuran kinerja alternatif yang memiliki komponen penyesuaian tersendiri.
Selain itu, peningkatan laba tidak serta-merta membuat harga saham langsung naik.
Pasar juga mempertimbangkan keberlanjutan keuntungan, kualitas arus kas, risiko regulasi, valuasi, dan prospek pertumbuhan perusahaan ke depan.
Dengan kata lain, perbaikan kinerja GOTO merupakan perkembangan positif, tetapi belum otomatis menghilangkan seluruh faktor yang selama ini menekan harga sahamnya.
11. Aksi Buyback Saham Belum Otomatis Membalikkan Tren Penurunan
Di tengah tekanan harga saham, GoTo juga melakukan pembelian kembali saham atau share buyback.
Berdasarkan informasi perusahaan hingga 29 Oktober 2026, GOTO telah menggunakan dana sekitar Rp985 miliar untuk membeli kembali 36 miliar saham sejak BEI mengubah batas minimum harga saham pada 28 September 2026.
Perusahaan masih memiliki alokasi dana sekitar Rp2,5 triliun untuk melanjutkan program buyback berdasarkan persetujuan yang berlaku hingga Juni 2027.
Selain itu, dalam RUPSLB pada 14 Oktober 2026, pemegang saham menyetujui pembatalan 32 miliar saham tresuri atau sekitar 2,7% dari jumlah saham beredar.
Langkah buyback dan pembatalan saham tresuri dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan modal perusahaan.
Pembelian kembali saham berpotensi membantu menopang permintaan di pasar, sedangkan pembatalan saham tresuri dapat meningkatkan persentase kepemilikan relatif pemegang saham yang tersisa.
Namun, buyback tidak menjamin harga saham akan terus naik.
Pergerakan harga tetap dipengaruhi oleh kondisi fundamental, sentimen investor, likuiditas, serta keseimbangan antara permintaan dan penawaran saham.
Apakah Harga Saham GOTO Masih Berpotensi Turun?
Pertanyaan ini tentu menjadi perhatian investor yang sudah memiliki saham GOTO maupun mereka yang sedang mengikuti perkembangan perusahaan.
Secara fundamental, terdapat sejumlah perkembangan positif yang dapat menjadi modal bagi GOTO untuk memperbaiki persepsi pasar.
Perusahaan telah mencatatkan laba bersih selama tiga kuartal berturut-turut, meningkatkan EBITDA yang disesuaikan, dan memperbaiki arus kas.
Namun, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan.
Pertama, perusahaan harus membuktikan bahwa laba bersih yang mulai dicapai dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Kedua, dampak pembatasan komisi aplikator maksimal 8% perlu terus dipantau, terutama terhadap profitabilitas layanan mobilitas.
Ketiga, persaingan dalam bisnis transportasi online, pengantaran makanan, dan layanan keuangan digital masih cukup ketat.
Keempat, perubahan likuiditas saham setelah penghapusan dari indeks global juga perlu diperhatikan oleh investor.
Kelima, pasar perlu melihat apakah pertumbuhan bisnis GoPay dan layanan keuangan mampu mengimbangi tekanan pada bisnis transportasi.
Dengan mempertimbangkan faktor tersebut, saham GOTO masih memiliki risiko volatilitas. Perbaikan kinerja keuangan menjadi sinyal positif, tetapi belum cukup untuk memastikan tren penurunan harga sudah berakhir.
Bagi investor, penting untuk tidak hanya terpaku pada harga saham yang sudah turun jauh dari IPO. Penilaian sebaiknya tetap didasarkan pada perkembangan laba, arus kas, valuasi, struktur modal, serta kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan bisnis.
Catatan untuk Investor Saham GOTO
Penurunan saham GOTO dari Rp338 saat IPO menjadi sekitar Rp24 pada 2 November 2026 memperlihatkan besarnya perubahan ekspektasi pasar terhadap perusahaan teknologi.
Namun, penurunan harga saham tidak selalu berarti perusahaan akan terus mengalami kemunduran. Sebaliknya, perbaikan laba juga tidak otomatis menjamin harga saham segera pulih.
Investor perlu membedakan antara kondisi bisnis perusahaan dan kondisi perdagangan sahamnya di bursa.
Fundamental yang membaik dapat menjadi modal pemulihan dalam jangka panjang. Sementara itu, faktor teknis seperti likuiditas, arus dana investor, perubahan indeks, dan tekanan jual dapat memengaruhi harga dalam jangka pendek.
Oleh karena itu, keputusan investasi pada saham GOTO sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan profil risiko, tujuan investasi, dan perkembangan laporan keuangan terbaru, bukan semata-mata karena harga sahamnya sudah jauh lebih rendah dibandingkan harga IPO.

Posting Komentar